Minggu, 16 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 3 : Malaikat Kecil di Surga Yang Sempit

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 3 : Malaikat Kecil di Surga Yang Sempit


Ilustrasi sinematik novel pria bernama Bima memeluk istrinya menatap bayinya yang baru lahir.


BAB 3

Malaikat Kecil di Surga yang Sempit


Usai resmi menikah, Bima memboyong Wanda pindah menyewa rumah kontrakan kecil di kawasan padat penduduk daerah Palmerah. Bangunan rumah-rumah sangat sederhana berdiri berhimpitan. 


Dinding cat biru mudanya mengelupas disana sini, di bagian bawah menampilkan tembok batako. Atap seng menahan panas terik matahari Jakarta tanpa ampun sepanjang siang. Gang menuju rumah tersebut terlalu sempit dilewati mobil. Mereka harus berjalan kaki menenteng barang bawaan melewati kerumunan tetangga yang sedang menjemur pakaian.


Bima berdiri bengong di ambang pintu kayu tak bergagang, cuma gembok kecil satu-satunya cara untuk membukanya. Tas koper bawaannya terasa sangat berat menekan pundak lelahnya. Matanya menyapu perlahan seisi ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut. Bau apek lantai semen lembab langsung menyengat rongga hidung. Kipas angin warna pink usang tergantung diam di langit-langit berdebu.


"Maafkan aku, Wanda," bisik Bima lirih memecah kecanggungan. "Kontrakannya sangat sempit. Hawanya juga panas membakar kulit."


Wanda melangkah masuk melewati Bima tanpa ragu sedikit pun. Gadis itu meletakkan tas mewahnya di sudut ruangan berdebu. Ia melepas sepatu hak tingginya begitu saja membiarkannya berserakan. Telapak kakinya berani menginjak langsung plesteran semen kasar dan dingin. Tidak ada raut kekecewaan tersirat di wajahnya saat itu. Tidak ada keluhan keluar dari bibir tipisnya.


"Mas Bim pikir aku mencari istana marmer bertingkat?" balas Wanda tersenyum simpul menggoda.


Dengan cekatan tangannya meraih sapu ijuk di pojok ruangan. Ia mulai membersihkan debu tebal di lantai dengan semangat membara.


Bima melangkah maju menahan pelan lengan istrinya. "Bukan begitu maksudku.. Kamu terbiasa tidur di atas kasur empuk ber-AC. Sedangkan di sini udaranya sangat pengap tak nyaman."


Wanda menyandarkan sapu itu ke dinding. Ia memutar badan menghadap sang suami. Kedua telapak tangan lembutnya terangkat menangkup pipi tirus Bima. Jemari lentik itu mengusap sisa peluh di dahi suaminya penuh sayang. Harum jasmine dari tubuhnya seketika mengusir bau apek ruangan tersebut.


"Istanaku ada di sini, Mas Bim.. Tepat di dalam pelukan hangatmu," ucap Wanda menatap bola mata Bima dalam-dalam seolah mencari keyakinan. "Sudahlah..,sekarang bantu istrimu ini menyapu lantai kotor ini. Kita harus segera menata kasur sebelum malam tiba."


Bima tersenyum mendengarnya. Beban berat yang meremas dadanya menguap lenyap tak bersisa tertiup angin. Penerimaan Wanda sungguh luar biasa tulus tanpa syarat. Gadis itu menelan mentah-mentah segala kekurangan ekonomi suaminya.


Bagi Bima, kontrakan sederhana itu adalah istana sesungguhnya. Kenyamanan batin tiada tara. Ia berhasil meraih kebebasan mutlak dambaannya. Ia sanggup berdiri tegap membahagiakan wanita pilihannya, murni di atas kakinya sendiri. Ia merasakan kehormatan lelakinya terselamatkan sepenuhnya.



Hari-hari berlalu bagaikan di dalam surga, dipenuhi rajutan romansa syahdu memabukkan. Mereka berjuang keras merintis masa depan cerah dari titik paling bawah.


Wanda memusatkan seluruh tenaganya membesarkan salon kecantikan rintisannya. Gadis itu melayani pelanggan memotong rambut hingga sore. Bima terus bekerja keras fokus melukis mencari pundi-pundi rupiah menyambung napas rumah tangga mereka. Jari-jarinya sampai kapalan menggoreskan pensil arang dari siang hingga menjelang malam di lapak trotoar berdebu.


Setiap subuh menjelang pagi, Bima bangun lebih dulu. Ia menyalakan kompor minyak tanah beraroma khas. Ia merebus air menyeduh teh melati hangat ke dalam gelas kaca. Wanda selalu terbangun merentangkan tangan mencium aroma seduhan suaminya tersebut.


"Pagi, Tuan Pelukis kebanggaanku," sapa Wanda memeluk erat punggung suaminya dari belakang.


Bima mematikan api kompor. Ia berbalik mengecup dahi istrinya sangat-sangat lama. "Selamat pagi, Nyonya Bima. Teh melatimu sudah siap menemani pagimu." selorohnya sambil menyodorkan gelas teh layaknya bartender pada tuan pelanggan.


Setiap senja menjelang tutup lapak, Bima selalu tak sabar menantikan waktu pulang ke rumah. Ia melangkah cepat setengah berlari menyusuri gang-gang berliku. Tak jarang tangannya membawa sebungkus terang bulan rasa keju susu kesukaan istrinya. Terkadang ia memetik setangkai bunga liar pinggir jalan sebagai kejutan romantis untuk sang istri.


Wanda selalu rutin menunggunya di ambang pintu tersenyum manis manja menyambutnya. Rambut panjang istrinya diikat asal ke atas menampilkan leher jenjang berpeluh lelah.


"Masak apa malam ini, Sayang?" tanya Bima mengecup mesra kening istrinya, menyalurkan rindu tertahan seharian.


"Sayur kelor kesukaanmu sudah matang. Tempe goreng tepungnya masih mengepul panas di meja," sahut Wanda cekatan mengambil alih ransel kanvas suaminya.


Mereka duduk bersila berhadapan di atas tikar plastik kusam bermotif cendrawasih. Makan sepiring berdua melahap lapar membagi cinta.


"Tempenya sedikit gosong hari ini, Mas Bim," ucap Wanda tersipu malu sambil melihat suaminya mengunyah penuh selera.


"Ini tempe paling lezat seJakarta. Hidangan restoran bintang lima masih kalah enak dengan ini," puji Bima bersungguh-sungguh tanpa tersirat kebohongan.


Wanda tertawa renyah mendengarnya. Tangannya terulur menyeka sudut bibir suaminya yang kotor terkena noda kecap manis. "Dasar pembohong, pandainya merayu."


Kebebasan hakiki akhirnya berhasil menemukan rumah nyamannya.



Malam itu, di atas kasur busa tipis kontrakan mereka, hujan rintik mulai turun mengetuk pelan atap seng. Udara dingin menyelinap masuk merayap lewat celah kusen jendela kayu, meremangkan bulu diseluruh kulit. Bima memeluk Wanda dari belakang kehangatan tubuhnya mengusir hawa dingin.


Wanda menyandarkan kepalanya bersandar nyaman ke dada bidang Bima. Jari lentiknya memutar pelan kancing kemeja kusam suaminya mengikuti irama tetesan rintik hujan.


"Mas Bim..." panggil Wanda sangat pelan nyaris tak terdengar tersapu suara gerimis.


"Ya, Sayang?" sahut Bima masih memejamkan mata, asyik menghirup aroma jasmine dari lekuk leher jenjang istrinya.


"Mulai besok kamu harus melukis jauh lebih banyak lagi. Usahamu harus berlipat ganda dari sebelumnya."


Bima bingung, mengernyitkan dahi membuka matanya. Ia menoleh menatap wajah istrinya penuh tanda tanya besar.


"Kenapa mendadak begitu, sayang? Apa uang sewa rumah kita naik bulan depan?" tanyanya bernada cemas.


Wanda menggeleng, berusaha menahan senyum mekar di bibirnya. Ia meraih telapak tangan kasar Bima. Gadis itu meletakkannya perlahan tepat di atas perut rata berlapis daster kain tipisnya.


"Ada kehidupan baru sedang tumbuh sehat di dalam sini, Mas Bim. Sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang ayah."


Seketika dada Bima bergemuruh dahsyat bagai dihantam godam. Napasnya tercekat tertahan di ujung tenggorokan menghentikan aliran darahnya sejenak.


"Kamu.. sungguhan serius?" suara Bima bergetar menahan gejolak emosi bahagia meluap-luap.


Wanda mengangguk mantap tanpa ragu. Air mata kebahagiaan menetes membasahi pipi merahnya. "Anak pertama kita ini segera hadir melengkapi kebahagiaan kita, Mas Bim."


Detik itu juga Bima menangis tersedu meruntuhkan ketegasan lelakinya selama ini. Ia bangkit duduk bersimpuh menundukkan kepala. Bibirnya mencium perut istrinya berkali-kali tanpa henti penuh bahagia. Tangis syukurnya pecah bersahutan bersama suara gerimis hujan di luar jendela.


"Terima kasih.. tak terhingga, Ya Tuhan," isak Bima memeluk erat pinggang istrinya membenamkan wajahnya. "Aku berjanji akan memberikan seluruh isi dunia untuknya."



Bulan-bulan masa kehamilan menjelma menjadi masa paling mendebarkan sekaligus ditunggu-tunggu. Bima melipat gandakan jam kerjanya tanpa mengeluh lelah sedikit pun. Ia memanjakan Wanda bak seorang ratu istana turun dari kahyangan. Setiap malam menjelang tidur, ia selalu memijat kedua betis istrinya yang membengkak menahan berat badan yang bertambah.


"Masih pegal kakinya, Sayang?" tanya Bima memijat perlahan telapak kaki sampai betis Wanda.


"Sedikit mendingan usai Mas Bim pijat. Anakmu ini aktif sekali menendang perutku sepanjang sore tadi saat melayani pelanggan," dengus Wanda tersenyum bangga mengelus perut buncitnya yang membulat sempurna.


Bima cepat-cepat menempelkan telinga kanannya ke perut istrinya mencoba mendengarkan secara saksama setiap pergerakan itu.


"Jagoan Ayah jangan nakal di dalam sana. Kasihan Ibu kelelahan bekerja seharian mengurus salon mencari uang," bisik Bima mengajak bayinya mengobrol sambil membelai perut istrinya.


Wanda mengusap rambut ikal berantakan suaminya penuh kasih sayang. "Dia pasti tumbuh menjadi anak laki-laki hebat sepertimu kelak, Mas Bim."


Menjelang bulan kesembilan, terlihat Bima sibuk menggergaji kayu bekas dan memaku papan di depan teras kontrakan. Uangnya tak cukup membeli boks mahal di toko perlengkapan bayi. Tangannya merakit sendiri sebuah tempat tidur mungil berlapis pernis mengkilat demi menyambut sang buah hati.


Waktu sembilan bulan berlalu begitu cepat membawa berkah terbesar dari penguasa alam semesta. Malam itu Wanda merintih kesakitan menahan kontraksi hebat, ketubannya pecah. Bima menggendong istrinya berlari menyusuri gang menuju klinik bersalin.


Tangisan bayi melengking keras memecah kesunyian klinik bersalin setempat malam itu. Bima segera mengumandangkan lafaz azan perlahan di telinga merah bayi mungil tersebut. Suaranya bergetar sambil menahan isak tangis tertahan menyumbat tenggorokan. Air mata mengalir membasahi pipi kasarnya tiada henti.


Wanda terbaring lemas menatap suaminya penuh gambaran cinta kasih. Keringat dingin membasahi seluruh wajah cantiknya, terlihat sangat pucat pasi kehabisan tenaga.


"Siapa namanya, Mas Bim?" bisik Wanda parau nyaris tak terdengar.


Bima mendekat mengecup kening istrinya dalam-dalam. "Wira.. Wirabuana, ksatria kecil ini pembawa jalan terang untuk kita."



Wira tumbuh pesat menjadi balita tampan menggemaskan. Kulitnya bersih bersinar terang memantulkan cahaya. Sorot matanya setajam burung elang mewarisi keteguhan mental sang ayah jalanan. Rambutnya ikal tebal persis menyalin genetik Bima sewaktu muda.


Kehadiran Wirabuana kecil menyempurnakan bingkai kebahagiaan keluarga sederhana pinggiran ibu kota tersebut. Tawa putranya setiap hari bergema di dalam rumah kontrakan 4x4 itu.


Malam itu, Bima memeluk erat tubuh istrinya usai Wanda menidurkan Wira di dalam boks bayi kayu buatan Bima sendiri. Mereka memandangi penuh sayang wajah damai putra mungilnya terlelap bernapas teratur.


"Aku berjanji akan selalu menjaga kalian berdua sekuat tenaga. Mempertahankan kebahagiaan ini sampai napasku berhenti," bisik Bima bersumpah sungguh-sungguh di telinga Wanda.


Wanda tersenyum manis membalasnya penuh kedamaian batin. Gadis itu mengeratkan pelukannya membenamkan wajah lelahnya di dada sang suami mencipta ketenangan absolut.


Bima telah dibawa gadis itu terbang menyentuh surga terindah. Ia memejamkan mata memeluk kesempurnaan hidupnya erat-erat dan menolak melepaskannya.


Pria hebat itu bertekad menyongsong masa depan tanpa menyadari rahasia takdir yang akan terjadi.


Kehadiran anak pertamanya sukses melahirkan kehangatan tiada tara dalam keluarga kecilnya, sekaligus pertanda awal kelak menjadi saksi bisu badai penghancur dinding istana cinta mereka.



Bersambung... BAB 4

Petualangan Detektif Cilik Memecahkan Teka-Teki Kotak Mawar Rahasia

Petualangan Detektif Cilik Memecahkan Teka-Teki Kotak Mawar Rahasia

Ilustrasi gaya komik misteri remaja detektif cilik memegang kaca pembesar menemukan kotak kayu rahasia di rumah tua.

Waktu baca: 4 menit

Awal Misteri di Depan Gerbang


Ceritasakti.com - Matahari perlahan tenggelam menyisakan warna jingga keemasan di ufuk barat.

Dimas tertawa keras sambil memegang perutnya melihat perlengkapan yang dibawa adiknya.

"Kau berani masuk ke sana sendirian? Anak penakut sepertimu pasti akan lari menangis memanggil ibu!" ejek Dimas menunjuk rumah kosong peninggalan kakek buyut mereka.

Lusi ikut menyeringai mengejek adiknya itu dari balik pagar berkarat.

"Ada hantu gadis bergaun putih sedang menangis di lantai dua menunggumu!" tambah Lusi menakut-nakuti, berusaha mematahkan semangat adiknya.

Wildan membetulkan posisi ranselnya menatap tajam kedua kakaknya secara bergantian.

"Aku akan membuktikan rumor konyol kalian berdua itu salah besar," jawab Wildan mantap.

Wildan menyalakan senternya lalu melangkah dengan berani menyusuri jalan berbatu. Ia meninggalkan Dimas dan Lusi yang terdiam kebingungan di luar gerbang.

Suara Tangisan Misterius


Wildan mendorong pintu aula, derit nyaring memecah kesunyian sore itu.

Cahaya senternya langsung membelah kegelapan, nampak ribuan partikel debu menari melayang di udara. Sudut ruangan gelap di penuhi jaring laba-laba kotor, hawa dingin yang berhembus kencang, menyapu bulu kuduk Wildan. Ia memegang erat gagang senternya seolah meyakinkan diri sendiri.

Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan melengking dari tangga kayu di lantai dua.

"Siapa di sana? Jangan coba menakut-nakutiku!" teriak Wildan meninggikan suaranya.

Tidak ada jawaban yang membalas teriakannya selain gema suaranya sendiri.

Wildan menelan ludahnya sendiri sembari mengatur napas perlahan. Detektif cilik ini menolak lari ketakutan tanpa membawa bukti nyata. Ia menaiki anak tangga itu perlahan dan menghindari kayu yang rapuh.

Sebuah kain putih melambai tertiup angin, memantulkan bayangan menyeramkan di dinding. Wildan mendekati bayangan kain putih tersebut lalu tertawa pelan sambil memegang perutnya. Ternyata bayangan itu sekadar gorden kusam tersangkut paku di bingkai jendela yang terbuka. Angin meniup jendela, menimbulkan bunyi rintihan engsel berkarat.

Gadis bergaun putih menangis di lantai dua itu ternyata hanya sebuah kain gorden tersangkut paku yang di iringi suara gesekan engsel berkarat.

Kertas Petunjuk Usang


Rasa takut Wildan berubah menjadi rasa penasaran yang sangat luar biasa menggebu-gebu.

"Teka-teki pertama berhasil kupecahkan dengan sangat mudah hari ini," bisik Wildan bangga.

Ia kembali menyusuri lorong dan menemukan sebuah kamar berdaun pintu biru. Wildan memutar kenop pintu itu perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruang rahasia itu berisi meja kerja kayu berukir gaya klasik Eropa kuno. Sebuah kotak kayu mungil, terkunci gembok ber-angka, tergeletak diatas meja.

Kertas petunjuk usang menempel menutupi sebagian badan kotak tersebut.

"Hitung jumlah kelopak mawar dalam lukisan di ruangan ini, kemudian kalikan dengan jumlah kursi," baca Wildan lantang.

Ia harus menemukan dua angka petunjuk untuk membuka gembok kombinasi tiga baris itu. Senter Wildan bergerak lihai menyinari seluruh sudut ruangan. Ia melihat lukisan vas bunga kusam yang menempel di dinding.

"Satu, dua, tiga... tujuh kelopak mawar merah muda," gumam Wildan menghitung dengan teliti.

Matanya kembali menatap sekeliling sudut ruangan mencari benda petunjuk kedua.

"Ada tiga buah kursi berserakan di sekitar meja ini." gumam Wildan.

Kotak Rahasia Kakek


Otak cerdas Wildan memproses perkalian sederhana itu dengan sangat cepat. Wildan tersenyum, sangat yakin angka dua puluh satu adalah jawabannya. Ia lalu memegang gembok kuningan itu. Dengan cekatan menyusun kombinasi angka 0, 2, dan 1. Suara bunyi "klik" tanda pengait kotak kayu terbuka membuat wajahnya gembira.

Wildan menahan napasnya sambil membuka penutup kotak tersebut dengan sangat hati-hati. Sebuah lipatan mawar merah dari kertas origami tersimpan rapi di dalam kotak. Sebuah perkamen kecil terselip aman di bawah lipatan mawar origami tersebut.

"Jaga selalu kerukunan persaudaraan kalian selamanya," baca Wildan sambil tersenyum.

Sebuah pesan rahasia tulisan tangan mendiang sang kakek buyut tercinta. Detektif cilik itu merasa sangat puas menuntaskan misi misterinya hari ini.

Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan panik yang nyaring membelah kesunyian di lantai bawah.

Harta Karun Persahabatan


"Tolong kami! Ada monster putih menggeram marah di sudut sana!" jerit Dimas ketakutan.

Lusi berteriak histeris memeluk lengan kakaknya dengan sangat erat meminta pertolongan.

Wildan bergegas turun membawa kotak kayu berharga tadi menghampiri kedua kakaknya. Dimas dan Lusi yang sengaja menyusul masuk berniat untuk menakuti adiknya, justru terkena batunya sendiri membuat mereka ketakutan setengah mati.

Dengan cepat Wildan mengarahkan cahaya senternya ke arah sudut gelap yang ditunjuk Dimas.

Seekor anak kucing putih melompat keluar dari tumpukan kardus bekas. Anak kucing kelaparan itu mengeong keras meminta makan sembari menatap mereka bertiga. Tawa Wildan pecah melihat wajah pucat kedua kakaknya yang gemetaran.

"Inilah sosok hantu menggeram menakutkan yang memburu kalian itu!" ucap Wildan sambil mengangkat anak kucing putih tersebut.

Dimas menepuk jidatnya menahan rasa malu luar biasa. Lusi menghela napas panjang menyadari kebodohan mereka berdua yang ketakutan tanpa alasan.

"Maafkan kami yang meremehkan keberanianmu saat masuk ke sini tadi," sesal Lusi tulus menatap adiknya.

Wildan membacakan pesan rahasia kakek buyut yang membuat suasana tegang berubah menjadi hangat.

"Kakek benar, kita harus berhenti bertengkar dan saling menyayangi," sambung Dimas menepuk kedua bahu adiknya pelan.

Dimas dan Lusi berjanji tidak akan merundung maupun mengganggu adiknya lagi. Mereka bertiga tertawa riang bersama menggendong anak kucing itu pulang menuju rumah. 

Keberanian memecahkan masalah menggunakan logika selalu lebih baik daripada lari ketakutan. Kejujuran dan persahabatan antar saudara adalah harta karun paling berharga di dunia ini.

Selesai

Jumat, 14 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 2 : Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 2 : Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua

Ilustrasi seorang pemuda bernama Bima menggendong Wanda menuju ke klinik setempat.

BAB 2

Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua


Gadis itu mendudukkan diri di atas kursi lipat kecil milik Bima. Sikapnya sama sekali tidak canggung. Suaranya terdengar renyah mengalahkan bising hiruk-pikuk pengunjung di sekeliling mereka.

"Tolong buat wajah saya terlihat sedikit lebih ceria ya, Mas," pintanya sedikit centil.

Tangannya bergerak merapikan helai rambut yang jatuh menutupi dahi.

Bima tersenyum tipis. Jarinya memegang erat batang pensil arang. Matanya menatap tajam lekuk wajah di hadapannya. Alis tipis melengkung indah. Mata bulat berbinar-binar. Lesung pipit kecil mencuat di pipi kiri setiap kali bibirnya menyunggingkan senyum.

Pensil conte hitam mulai menari lincah di atas kertas sketsa. Bima mulai mengarsir perlahan bias bayang senja yang menerpa wajah gadis itu. Tarikan garisnya spontan dan sangat tegas.

"Wajah asli Mbak sebetulnya sudah cukup ceria", pancing Bima memulai perbincangan sore itu. Matanya melirik sejenak dari balik kertas.

Gadis itu tertawa pelan. Matanya menyipit menatap balik Bima.

"Ya.. Berarti Mas pelukis tidak perlu capek-capek sore ini," balasnya santai. Tangannya bertumpu pada lutut, mencondongkan badan sedikit ke depan mengintip proses menggambar.

Bima menajamkan pandangan. Fokusnya berpindah bergantian dari mata sang gadis menuju kertas sketsa. Garis rahang mulai terbentuk sempurna. Arsirannya makin rapat menangkap siluet cahaya mentari di wajah pelanggan istimewanya ini.

"Mbak, Saya harus menuliskan sebuah nama di sudut sketsa ini. Sebagai syarat wajib hasil karya saya," karang Bima lancar, memancing sebuah nama.

Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit. Alis kanannya terangkat naik terperanjat kaget.

"Ah, masa? Pelanggan sebelum saya tadi, tidak ditanya nama sama sekali. Saya memperhatikannya loh dari seberang jalan."

Bima tersenyum meringis sedikit melebar. Taktiknya terbongkar terlalu cepat. Ia menghentikan goresan pensilnya sejenak, membalas tatapan gadis itu dalam-dalam.

"Saya memberikan perlakuan khusus untuk pelanggan berlesung pipit seperti, Mbak" sahut Bima pantang menyerah. Nada suaranya terdengar rendah, tapi sarat rasa percaya diri khas seorang pemuda jalanan.

Semburat merah tipis menjalar di kedua pipi gadis itu. Gugup sudah pasti. Ia memalingkan wajahnya menatap deretan gedung kolonial tua di seberang jalan, menyembunyikan salah tingkahnya. Jemarinya memuntir-muntir ujung tali tas bahunya.

"Tulis saja Wanda," ucapnya pelan. Wajahnya kembali menatap Bima, kali ini disertai senyum paling manis se-Kota Tua.

"Nama yang bagus. Sangat pas bersanding dengan senyuman sore ini," puji Bima tulus.

Tidak ada kebohongan dalam pujian itu. Bima kembali menunduk. Tangannya bergerak cepat bak mesin cetak. Ia menangkap kilau mata Wanda memantulkan pendar sinar senja. Guratan pensil Joyko 12B itu selesai sempurna hanya dalam belasan menit.

"Sudah selesai," ujar Bima mengulurkan lembaran kertas lukis tersebut.

Wanda menerima hasil karya Bima. Matanya membelalak kagum. Tangannya mengelus permukaan kertas penuh kehati-hatian. Garis-garis hitam itu tidak sekadar menyalin wajahnya, melainkan menangkap aura di dalam dirinya.

"Indah sekali. Coretan pensilnya terasa hidup," puji Wanda bersungguh-sungguh. "Kamu punya bakat luar biasa, Mas Pelukis."

Ia membuka resleting tas bahunya, mengambil beberapa lembar uang kertas. Wanda tidak meletakkannya di atas tikar, melainkan menyodorkannya langsung ke genggaman telapak tangan kasar Bima.

"Terima kasih banyak, Mas pelukis. Namaku Wanda, Kamu?"

"Bima..Mbak"

"Oke, Sampai jumpa lagi, Mas Bima."

Gadis itu berdiri. Langkah kakinya bergerak menjauh membaur di antara kerumunan pengunjung. Bima memperhatikan punggung gadis itu menyusut hingga sirna di balik deretan gedung tua. Ada getaran spektrum aneh menetap di rongga dadanya. Sore itu, lembaran uang pemberian Wanda terasa sangat berbeda. Bima melipatnya rapi, memasukkannya ke saku kemeja paling dalam.

Satu minggu berlalu sangat lambat. Bima menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia mengawali pagi memanggul karung beras di pasar, lalu bersiap melukis menjelang siang hari.

Matahari sedang terik-teriknya memanggang ubun-ubun. Bima berjalan menyusuri trotoar berdebu menuju tempat biasa ia menggelar lapak. Ransel kanvas kusam menempel berat di punggung. Tangannya menjepit erat sebuah papan kayu alas lukis.

Langkah kaki Bima terhenti di tepi persimpangan jalan raya yang sangat ramai. Lampu lalu lintas berganti warna merah. Pejalan kaki berbondong-bondong mulai menyeberang.

Di antara kerumunan manusia berlalu-lalang itu, Bima menangkap sosok familier. Kemeja putih kotak-kotak. Celana jin biru terang. Tas bahu cokelat. Itu Wanda. Gadis itu sedang menyeberang melangkah santai.

Suara khas deru mesin 2 stroke melengking nyaring dari arah kanan. Sebuah sepeda motor melaju ugal-ugalan menerobos lampu merah. Pengendaranya panik melihat barisan manusia di tengah jalan, berusaha mengerem mendadak memutar setir ke arah kanan.

Petaka itu terjadi sangat cepat. Hitungan detik mengubah suasana tenang menjadi jerit kepanikan.

Ciiiiiiiiiit! Bruaakk!!

Suara decitan ban bergesekan keras diatas aspal panas. Bodi besi motor menyenggol keras pinggul Wanda. Gadis itu terpental. Tubuhnya jatuh tersungkur membentur aspal jalanan. Pengendara motor itu juga nyaris terjatuh, tapi segera menancap gas kabur melarikan diri menyisakan kepulan asap.

"Aduhh!" jerit Wanda memekik keras. Tangannya memegangi kaki kirinya.

Bima melepaskan papan lukisnya begitu saja ke atas trotoar. Alat lukisnya berserakan berhamburan ke selokan. Ia sama sekali tidak peduli. Kakinya berlari kencang menerobos kerumunan orang menyeberangi jalan. Jantungnya berdegup kencang.

"Nona, tidak apa-apa?" seloroh salah seorang warga yang berkerumun.

Bima membelah paksa kerumunan tersebut. Matanya membelalak lebar melihat Wanda meringkuk memegangi pergelangan kakinya. Wajah gadis itu pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.

"Wanda!" panggil Bima refleks menjatuhkan kedua lututnya ke aspal panas.

Wanda mendongak. Matanya berkaca-kaca menahan sakit luar biasa. Napasnya tersengal-sengal bercampur tangis.

"Mas pelukis... kaki saya sakit sekali. Tidak bisa digerakkan," rintih Wanda mencengkeram lengan kemeja kusam Bima.

Bima melihat pergelangan kaki kiri gadis itu. Membengkak membiru. Posisinya sedikit janggal. Pasti cedera tulang. Insting menolong Bima mengambil alih. Ia tidak membuang waktu satu detik pun.

"Tahan sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Kita ke klinik sekarang," ujar Bima tegas. Suaranya memberi ketenangan luar biasa meredam kepanikan Wanda.

Bima menyelipkan lengan kirinya ke bawah lipatan lutut Wanda. Lengan kanannya menopang punggung gadis itu. Ia merengkuh tubuh Wanda perlahan, mengangkatnya kuat-kuat ke dalam pelukan. Wangi parfum jasmine kembali menusuk hidungnya, kali ini bercampur bau debu jalanan.

Bima memapah Wanda menembus kerumunan. Ia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi biru yang melintas. Ia membaringkan Wanda perlahan di kursi belakang, lalu menyusul duduk di samping gadis itu.

Taksi melaju membelah kemacetan ibu kota. Wanda meringis kesakitan sepanjang perjalanan. Kepalanya tersandar lemas di bahu Bima. Pria itu membiarkan kemejanya basah oleh air mata sang gadis.

Aroma cairan antiseptik menyengat tajam rongga hidung. Ruang gawat darurat klinik setempat terasa sangat dingin menusuk tulang.

Bima berdiri bersandar pada dinding di samping ranjang periksa. Matanya menatap cemas ke arah dokter paruh baya yang sedang membebat kaki kiri Wanda.

"Ada keretakan kecil di tulang betis bawah. Beruntung lukanya tidak parah sampai merobek daging," jelas dokter sambil merapikan peralatannya. "Gips ini harus terpasang beberapa minggu. Jangan dipaksa berjalan."

Wanda mengangguk pelan. Wajahnya masih menyisakan rona pucat. Setelah dokter berlalu pergi, ia menatap Bima berdiri canggung di sudut ruangan. Baju pria itu kotor terkena noda lumpur jalanan. Keringat membasahi seluruh wajahnya.

"Mas Bima, maafkan saya. Kamu jadi repot. Peralatan melukismu pasti tertinggal hilang di pinggir jalan tadi," ucap Wanda serak. Matanya memancar rasa bersalah teramat besar.

Bima hanya menggeleng pelan. Ia melangkah mendekati ranjang, menarik kursi plastik, duduk tepat di samping Wanda.

"Peralatan melukis itu bisa kucari ulang besok pagi. Nyawamu lebih penting. Berhentilah meminta maaf."

Wanda menatap balutan gips di kakinya. "Biaya kliniknya pasti mahal. Dompetku tertinggal di salon."

"Tadi sudah aku lunasi di meja administrasi.. Kamu cukup fokus beristirahat memulihkan kakimu."

Wanda menatap Bima seakan tak percaya. Ia tahu persis kehidupan pelukis jalanan. Nominal tagihan klinik itu setara dengan berminggu-minggu penghasilan melukis di trotoar. Pasti Bima baru saja menguras habis seluruh uang simpanannya.

"Aku akan mengganti semua uangmu, Mas Bima. Aku berjanji," bisik Wanda penuh salah.

Bima hanya membalasnya lewat sebuah senyuman tipis. Uang bukan masalah baginya. Menyaksikan gadis ini selamat saja ia sudah bisa bernapas lega.

Sore menjelang malam, Bima mengantar Wanda pulang menaiki taksi. Alamat tujuan mengarah ke kawasan pemukiman asri Jakarta Pusat.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah berhalaman luas. Bima memapah Wanda keluar dari kendaraan. Orang tua Wanda segera berlari keluar rumah menyambut kedatangan putri mereka penuh kepanikan.

Ibu Wanda menangis memeluk putrinya. Ayah Wanda menatap Bima penuh rasa terima kasih. Mereka mempersilakan Bima masuk ke dalam rumah. Ruang tamu itu dihiasi perabotan kelas menengah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan itu ciri-ciri rumah orang berada.

Keluarga Wanda berasal dari kalangan diatas sederhana, orangtuanya asli kota Jakarta. Ayah Wanda memiliki usaha jasa ekspedisi kargo. Kemewahan ini terasa tidak asing bagi Bima. Pemandangan yang mengingatkannya pada rumah masa kecilnya di Surabaya. Rumah tempat ayahnya dulu sering membentaknya setiap malam. Tapi Bima cepat-cepat mengubur memori buruk itu dalam-dalam.

Bima menolak halus tawaran makan malam keluarga tersebut. Ia memilih pamit undur diri kembali ke jalanan gelap Jakarta.

Hari-hari berikutnya menjadi awal babak baru kehidupan Bima.

Setiap pagi sebelum memulai lapak lukisan, ia menyempatkan diri datang menjenguk Wanda. Kadang ia berkunjung ke rumah Wanda. Kadang ia mendatangi bangunan ruko kecil tempat Wanda merintis bisnis salon kecantikannya.

Tembok pembatas perbedaan kasta sosial perlahan runtuh. Orang tua Wanda menyambut Bima sangat ramah. Mereka tidak mempermasalahkan penampilan kumal Bima. Mereka murni mengagumi ketulusan pria jalanan itu telah menyelamatkan nyawa putri semata wayang mereka.

Suatu siang di luar kaca ruko salon. Hujan turun cukup deras. Pelanggan sedang sepi. Wanda duduk berselonjor di sofa ruang tunggu. Kaki kirinya masih terbalut gips tebal. Bima duduk di seberang meja asyik menggoreskan pensil conte yang baru dibelinya ke atas buku sketsa.

"Kenapa kamu memilih hidup di jalanan, Mas Bima?"

Pertanyaan Wanda memecah suara gemuruh hujan. Gadis itu menopang dagu menatap wajah serius Bima menggambar.

Bima menghentikan gerak tangannya. Ia menatap dalam-dalam mata bulat Wanda.

"Jalanan itu jujur. Orang-orangnya apa adanya tidak pernah memalsukan kenyataan." Bima menjawab sangat tenang. "Tidak harus menjaga nama baik keluarga. Tidak ada kepalsuan. Aku hidup dari apa yang sanggup kukerjakan dengan kedua tanganku sendiri."

Wanda terdiam berusaha mencerna kalimat tersebut.

"Kamu punya bakat sangat besar, Mas Bima. Lukisanmu bagus, terasa sangat hidup. Sayang sekali jika bakat itu hanya berakhir di atas trotoar berdebu selamanya."

Bima tersenyum getir. Ia menunduk mengelap sisa noda arang conte di ujung jarinya.

"Entahlah Wanda.. bagiku trotoar berdebu itu justru memberiku napas kehidupan."

Bima sengaja merahasiakan identitas aslinya. Ia tidak pernah menyebutkan fakta mengenai ayahnya adalah Seorang pejabat tinggi kejaksaan di Surabaya pemilik kekayaan melimpah ruah, jauh melampaui aset keluarga Wanda saat ini. Tapi di mata Wanda sekeluarga, Bima hanyalah pelukis jalanan bersahaja berjiwa bebas pencari jati diri.

Pembicaraan mereka mengalir jauh semakin dalam. Tak ada yang ditutupi lagi, Wanda mulai menceritakan semuanya termasuk impian terbesarnya.

"Aku menolak bekerja meneruskan perusahaan Ayah," ucap Wanda menatap pantulan dirinya di cermin salon. "Semua orang menganggapku anak manja. Mereka pikir aku bisa hidup enak tinggal meminta uang bulanan."

Bima mendengarkan penuh perhatian. Tangannya sambil kembali mengarsir lambat.

"Aku nekat menyewa ruko kecil ini. Aku merintis salon kecantikan ini, murni dari uang tabunganku semasa kuliah."

"Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri. Berdiri di atas kakiku sendiri. Bebas dari bayang-bayang harta orang tua."

Pernyataan Wanda barusan bagaikan aliran listrik menyengat telinga Bima. Kesamaan visi hidup itu laksana menjalin benang merah tak kasat mata di antara mereka berdua. Mereka berasal dari belahan dunia yang berbeda, namun berujung mencari muara yang sama.

Rasa kagum Bima pada kemandirian Wanda seketika bermetamorfosis. Benih cinta mulai tumbuh mengakar kuat di dasar hatinya.

Tiga tahun berlalu, waktu berjalan sangat cepat. Cinta di antara Bima dan Wanda tumbuh makin kokoh melewati segala badai ujian menuju hubungan lebih serius.

Bima bersikeras menolak seluruh tawaran bantuan finansial dari keluarga Wanda. Ia juga pantang memohon bantuan bayang-bayang kekayaan ayahnya di Surabaya. Harga dirinya terlalu mahal. Ia bertekad membangun rumah tangga murni dari peluh keringatnya sendiri.

Wanda menghargai keputusan Bima. Gadis itu pun rela meninggalkan rumah megah ayahnya demi mendampingi pria pilihannya memulai hidup dari titik terendah.

Pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Jauh dari kata mewah. Tanpa pesta meriah di aula hotel berbintang. Tanpa rentetan karangan bunga pejabat menghiasi jalanan. Acara suci itu hanya berlangsung di Kantor Urusan Agama setempat. Hanya dihadiri keluarga dekat Wanda serta beberapa sahabat musisi pengamen dan sesama pelukis jalanan kawan Bima.

Bima mengucap ijab kabul penuh ketegasan lantang. Tangannya menyematkan sebuah cincin sederhana ke jemari manis Wanda. Cincin itu dibelinya dari hasil jerih payah melukis ratusan wajah di trotoar selama berbulan-bulan. Senyum bahagia terukir indah abadi di bibir mereka berdua hari itu.

Bima memeluk Wanda erat-erat. Air mata syukurnya tumpah membasahi batik pernikahannya.

Pria itu masih belum menyadari rahasia takdir ke depan. Kehadiran dua malaikat kecil kelak menjadi tanda awal mula rentetan badai penghancur retaknya dinding istana kecil mereka.

Bersambung... Bab 3

Kisah Nola dan Nobi Si Prajurit Gigi di Istana Mulut

Kisah Nola dan Nobi Si Prajurit Gigi di Istana Mulut


Waktu baca: 2 menit

Pasukan Putih Istana Mulut


Ceritasakti.com - Di sebuah Istana Mulut yang bersih dan berseri kisah ini bermula. Istana Mulut memiliki deretan prajurit penjaga berwarna putih bersih.

Nola si gigi geraham berdiri tegap berdampingan bersama Nobi si gigi seri. Mereka bertugas menghancurkan semua makanan yang menembus pintu masuk istana.

"Kita harus selalu mandi dua kali sehari," ucap Nola bersemangat.

"Tentu saja agar baju zirah kita tetap putih berkilau," balas Nobi tersenyum lebar.

Mereka selalu rutin membersihkan diri setiap pagi sebelum beraktivitas. Malam hari sebelum tidur juga menjadi waktu mandi wajib bagi seluruh prajurit istana. Kegiatan ini rutin dan berulang demi menjaga kekuatan pertahanan mereka.

Serangan Air Hujan Hitam


Suatu siang langit Istana Mulut tiba-tiba berubah sangat gelap gulita. Hujan air berwarna hitam pekat turun mengguyur seluruh pasukan penjaga. Air hitam itu ternyata merupakan minuman kopi kesukaan sang pangeran istana.

Noda kecokelatan seketika menempel menutupi permukaan tubuh Nola.

"Aduh.. tubuhku menjadi kotor terkena guyuran cairan pekat ini!" keluh Nola bersedih.

"Air hitam itu membuat baju zirah pelindung kita rusak," tambah Nobi panik ketakutan.

Bintik-bintik kotoran manis itu adalah sarang kuman jahat musuh prajurit gigi. Pasukan putih harus segera mencari bantuan untuk membasmi noda tersebut. Mereka berteriak lalu memanggil bala bantuan pasukan kebersihan.

Bantuan Peri Benang Ajaib


Sisa kotoran lengket itu masih terselip membandel terjepit pada tubuh mereka. Tiba-tiba seutas tali putih bersinar meluncur turun melewati langit-langit istana. Peri Benang terbang datang membawa pertolongan menyelamatkan para prajurit.

"Hai.. Biar aku bersihkan celah sempit di antara tubuh kalian," sapa Peri Benang lembut.

Tali ajaib itu bergerak lincah menarik keluar sisa kotoran membandel. Nola menghela napas panjang merasa sangat lega. Senyum ceria kembali menghiasi wajah kotak si geraham itu.

Tidak ada lagi kotoran tersembunyi penyebab sarang kuman perusak. Celah sempit tubuh mereka terbebas dari ancaman kejahatan.

Pasukan Sikat Elektrik Baru


Selain itu, ada pasukan sikat yang dipimpin Sika setiap hari standby, siap berkeliling ke seluruh Istana Mulut.

Sika, si kakek Sikat Tua kini sudah kelelahan menjalankan tugas rutinnya. Bulu kepalanya sudah berantakan melebar ke segala arah tak beraturan. Pangeran istana akhirnya mendatangkan pasukan sikat baru bermesin elektrik canggih.

Sikat baru itu berputar otomatis membawa gumpalan mint super dingin.

"Wahh.. tubuhku terasa sangat segar dan memancarkan kilau bercahaya!" sorak Nola melonjak gembira.

Busa mint bebas gula itu pun mengembalikan warna putih cemerlang pasukan istana mulut. 

Kisah kehidupan prajurit gigi istana mulut ini mengajarkan pentingnya merawat kebersihan tubuh. Kedisiplinan menjaga kesehatan sejak dini akan menjauhkan kita dari segala macam penyakit.

Selesai

Kamis, 13 Agustus 2026

Kisah Kakek Cipto dan Robot Galaxy di Kota Roda Gigi

Kisah Kakek Cipto dan Robot Galaxy di Kota Roda Gigi

Ilustrasi cat air kakek profesor merakit robot kecil bernama Gala di bengkelnya.

Waktu baca: 4 menit

Mata Lensa Tembus Pandang


Ceritasakti.com - Kota Roda Gigi telah sangat lama berdiri abadi megah, melampaui segala zaman.

Terlihat Kakek Cipto sibuk merakit bagian tubuh robot baru berteknologi canggih. Robot Galaxy duduk tenang menanti pembaruan sistemnya di atas meja kayu sang profesor.

"Kekuatan barumu akan sangat luar biasa, Galaxy" ucap Kakek Cipto tersenyum.

"Aku siap membantu semua orang, profesor" balas Galaxy antusias menganggukkan kepala besinya.

Tubuh besi Galaxy kini memiliki kecanggihan yang mengagumkan. Kakek Cipto memasang sepasang mata lensa pembesar terbaru. Mata lensa itu tembus pandang, bisa mengeluarkan sketsa bercahaya yang dapat melihat benda di balik tembok tebal. Galaxy kini bisa menemukan sekrup hilang berbekal pandangan ajaib tersebut.

Lengan Karet Super Lentur


Pembaruan berlanjut menuju kerangka lengan baja Galaxy. Kakek Cipto melepas engsel kaku pengait sendi-sendi robot mungil itu. Ia menggantinya menggunakan material karet super lentur tahan panas. Lengan fleksibel itu dapat memanjang memegang kaleng oli sejauh tiga meter.

Galaxy melompat kegirangan memamerkan kelenturan tubuhnya ke udara. Ia tidak perlu lagi menenteng kotak perkakas berat ke mana-mana. Badannya sendiri kini sudah menjadi alat serbaguna paling praktis.

"Lengan ini sangat hebat sekali!" seru Galaxy melingkarkan tangannya.

Pertunjukan Cahaya Kupu-Kupu


Bagian dada Galaxy kini memiliki lubang proyektor canggih. Lubang mesin tersebut menembakkan sorot cahaya terang membelah kegelapan ruangan. Bayangan kupu-kupu tiga dimensi muncul beterbangan memenuhi seisi bengkel profesor.

Galaxy menyentuh bayangan memukau tersebut perlahan-lahan. Ia menggerakkannya sesuka hati menghibur Kakek Cipto.

Kupu-kupu cahaya mengepakkan sayap melintasi udara kosong. Galaxy mengubah dinding kusam bengkel menjadi arena bermain menyenangkan. Kakek Cipto tertawa lepas menikmati pertunjukan proyektor internal tersebut. Suasana malam dingin berubah menjadi sangat hangat dan ceria seketika.

"Pertunjukan cahayamu sangat indah sekali, Nak," puji Kakek Cipto mengusap dada Galaxy.

"Ini khusus untuk menghiburmu malam ini, Profesor" sahut Galaxy memancarkan senyum khas robotnya.

Bintang Kebaikan di Langit Malam


Tahap terakhir adalah memasang pelindung inti chip memori. Kakek Cipto menanamkan pemindai khusus tepat di tengah retina mata Galaxy. Tidak ada satu pun pencuri bisa membuka brankas ingatan Galaxy. Hanya Kakek Cipto yang sanggup membuka sistem keamanan mutakhir tersebut.

Galaxy kini menjadi robot mungil paling hebat sekota Roda Gigi. Ia berlari keluar bengkel mencari teman-teman sesama robot setiap sore. Galaxy memproyeksikan bintang-bintang cahaya melayang di udara menghibur kawan-kawannya.

Kekuatan hebat tubuh barunya hanya dipakai menebar kebaikan tanpa pamrih. Dongeng pengantar tidur ini mengajarkan kita pentingnya ketulusan hati membantu sesama. Kebaikan akan selalu bersinar terang mengalahkan kegelapan malam.

Selesai

Rabu, 12 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 1 : Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 1 : Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta

Ilustrasi seorang pemuda menggambar sketsa di trotoar jalanan jakarta

BAB 1

Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta


Pecahan asbak kristal berserakan menghantam lantai pualam rumah mewah.


"Keluar dari rumah ini jika coretan sampah itu masih kau sebut masa depan!" Suara bariton Hari menggema keras, memantul menabrak pilar-pilar besar ruang keluarga.


Bima tak bergeming. Rahangnya mengeras kaku. Pemuda dua puluh tahun itu menatap tajam mata ayahnya tanpa sekelumit ketakutan. Penampilannya sangat kontras mencoret kemewahan ruangan itu. Rambut ikalnya gondrong tak beraturan, menutupi sebagian dahi. Kemeja flanel pudar membalut tubuh tegapnya. Tangan kanannya mengepal kuat di samping paha, menyembunyikan sisa noda grafit membekas hitam di sela jari-jarinya.


"Ayah selalu menilai segala hal dari sampulnya saja," balas Bima pelan. Suaranya dingin menusuk. "Kejaksaan mengajari Ayah cara memenjarakan penjahat. Apakah sekarang Ayah juga ingin memenjarakan anak di rumahnya sendiri."


Plakk!


Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Bima. Panas menjalar. Perih menyengat kulit. Namun Bima pantang menunduk. Matanya terus menantang pria paruh baya berseragam dinas rapi di hadapannya.


"Anak tidak tahu diuntung!" Napas Hari memburu cepat. Telunjuknya menuding tepat ke depan wajah Bima. "Fasilitas lengkap. Uang saku berlebih. Masa depan sudah kusiapkan rapi. Kamu malah memilih keluyuran bersama berandalan terminal! Membolos kuliah demi coretan mural tembok kumuh pinggir jalan itu!"


Bima hanya tersenyum sinis. Ujung ibu jarinya mengusap darah segar menetes dari sudut bibir. Ia perlahan berpaling membalikkan badan.


"Simpan semua fasilitas itu, Ayah. Bima muak."


Malam itu juga Bima mengemasi barang-barangnya. Ransel kanvas kusam warna zaitun menjadi satu-satunya teman. Ia menolak membawa pakaian mahal berlabel desainer. Hanya beberapa helai kaus oblong, celana jins belel, kotak pensil arang, beserta sebuah buku sketsa tebal bersampul kulit imitasi. Kartu ATM premium gold pemberian ayahnya tergeletak begitu saja di atas meja belajar.


Langkah kakinya terlihat ringan saat menuruni tangga kayu jati ukiran mewah. Terdengar isak tangis tertahan dari balik pintu kamar ibunya. Langkah Bima sempat terhenti sejenak. Ada nyeri tiba-tiba menyelinap memukul dada kirinya. Namun tekadnya sudah bulat tak tergoyahkan. Surabaya terlalu sempit baginya. Bayang-bayang kebesaran nama sang ayah selalu mencekik lehernya setiap kali melangkah keluar pagar rumah. Ia butuh udara segar. Ia butuh kebebasan mutlak. Tanpa kekang. Tanpa aturan formal.


Stasiun Gubeng menyambutnya menjelang tengah malam itu. Udara dingin mulai menusuk tulang. Kereta ekonomi tujuan Jakarta membunyikan peluit panjang memecah keheningan. Bima melangkah naik melewati pintu gerbong berkarat. Duduk menyudut di dekat jendela kaca kusam, ia menatap deretan lampu kota bergerak mundur perlahan sirna ditelan gelap.


Roda besi bergesekan menggosok rel mengeluarkan irama monoton. Ingatan Bima melayang mundur menelusuri masa kecilnya. Rumah mewah bertingkat tiga. Deretan mobil Eropa. Sopir pribadi berseragam rapi. Deretan guru les privat bergantian mendatangi rumah. Semua fasilitas itu terasa palsu. Ia membenci kemunafikan dunia kelas atas itu.


Bima cilik lebih sering melarikan diri, memanjat melompati tembok belakang kompleks perumahan elite mereka. Bergabung bersama anak-anak kampung pinggiran bantaran sungai. Mencuri waktu bolos sekolah hanya untuk menonton film aksi di bioskop tua berbau pesing. Di sana, di tengah kepulan asap rokok penonton ber-tiket kelas ekonomi, Bima justru menemukan kejujuran. Mereka tertawa lepas tanpa perlu menjaga wibawa.


Kini, gerbong kereta besi ini membawanya menjauh pergi. Menuju ibu kota. Tanpa rencana matang. Tanpa bodyguard bayaran ayahnya.


Dua belas jam berselang, Jakarta menyambutnya dengan tamparan panas matahari siang. Stasiun Pasar Senen riuh rendah memekakkan telinga. Suara klakson mikrolet bersahutan, teriakan parau kuli panggul berebut penumpang, aroma keringat masam bercampur debu aspal langsung menyergap hidungnya. Bima berdiri tegak di lobi luar depan stasiun. Ia menghirup udara berpolusi itu dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya.


Inilah aroma kebebasan.


Namun, kebebasan yang dikejarnya ternyata mematok harga sangat mahal.


Minggu-minggu pertama terlewati layaknya simulasi neraka. Uang saku di dompet kulitnya menyusut drastis hanya dalam hitungan hari. Bima harus menelan pahitnya realita. Tidurnya berpindah-pindah percis gelandangan sejati. Dari emperan toko kelontong tutup, bangku semen taman kota, hingga meringkuk kedinginan di sudut halte busway. Perutnya sering berbunyi nyaring menahan perihnya lapar. Terkadang ia hanya sanggup membeli sebungkus mi instan mentah untuk digigit sedikit demi sedikit sepanjang hari.


Ego prianya menahan jemarinya menghubungi keluarga di Surabaya. Pulang berarti kalah. Menyerah berarti mengakui kebenaran mutlak kata-kata ayahnya. Dan Bima menolak kalah.


Tubuhnya makin mengurus. Tulang pipinya menonjol tegas. Kulit terangnya kini terbakar terik matahari berubah menjadi kecokelatan kusam. Rambut ikalnya memanjang liar tak terurus menyentuh kerah baju. Namun, sorot matanya justru menyala lebih terang. Di tengah kerasnya aspal Jakarta, insting bertahan hidupnya bangkit berontak.


Sore itu, di sudut kawasan Kota Tua, Bima menggelar tikar plastik UV tipis hasil memulung di belakang pasar. Ransel bututnya menjadi penyangga buku sketsa. Ia mengeluarkan selusin pensil arang kesayangannya. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas kertas putih bersih.


Objek pertamanya sore itu adalah sebuah gedung kolonial tua peninggalan Belanda di seberang jalan. Garis demi garis tercipta tegas penuh percaya diri. Arsirannya sangat detail, sukses menangkap bayangan dramatis matahari senja di sela-sela jendela usang.


Seorang wisatawan dari luar Jakarta berhenti melangkah. Pria paruh baya bertopi fedora itu memperhatikan lukisan Bima lekat-lekat.


"Berapa harga lukisan wajah, Mas?" tanya pria itu menunjuk kertas kosong.


Bima mendongak. Jakunnya turun naik menelan ludah.


"Terserah Bapak. Seikhlasnya saja Pak." jawab Bima sambil menyodorkan kursi lipat kecil.


Tangan Bima kembali bergerak cepat bak mesin cetak. Matanya menatap wajah keriput pria itu bergantian menuju media kertasnya. Fokusnya tajam. Ia mengabaikan perutnya yang meronta minta diisi. Hanya butuh waktu lima belas menit. Sketsa wajah berkarakter selesai sempurna. Guratan lelah pada mata pria pelanggan pertamanya itu, berhasil ia tangkap paripurna lewat arsiran pensil 12B.


Pria itu tersenyum puas, mengangguk pelan, lalu meletakkan selembar uang lima puluh ribu di atas tikar Bima.


Lima puluh ribu pertama dari keringatnya sendiri.


Bima menatap lembaran uang berwarna biru itu lama sekali. Ada kebanggaan luar biasa meletup-letup di dadanya. Di Surabaya dulu, uang nominal sekecil ini hanya cukup untuk membayar parkir valet kafe mewah. Di sini, di atas trotoar berdebu ini, lima puluh ribu adalah penyambung nyawa. Lembaran ini adalah bukti ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.


Sejak hari itu, sudut pelataran Kota Tua resmi menjadi rumah keduanya. Debu jalanan, asap knalpot pekat, bising alat musik pengamen jalanan menjadi simfoni pengiring kesehariannya. Pelanggannya kian beragam. Mulai mahasiswa mencari kado murah, pasangan kekasih merayakan hari jadi, turis asing penasaran, hingga pekerja kantoran yang lewat mencari hiburan sore.


Terkadang, ritme tenangnya harus pecah seketika. Bima harus tergesa-gesa membereskan lapaknya, lalu berlari kencang saat petugas ketertiban kota mendadak datang merazia. Kaki beralas sandal jepit tipisnya sering tak sengaja menginjak pecahan beling. Napasnya tersengal kala bersembunyi di balik tumpukan kardus gang sempit.


Anehnya, malah tawanya selalu pecah setiap kali petugas razia pergi berlalu.


Ia menikmati setiap detik penderitaan itu. Tidak ada lagi aturan ketat menjaga tata krama keluarga. Tidak ada lagi tuntutan memaksa senyum palsu demi menjaga nama baik reputasi ayahnya. Di atas aspal mendidih itu, Bima bukan lagi anak emas pejabat tinggi kejaksaan. Ia telah membunuh identitas itu.


Ia kini hanya Bima. Sang pelukis jalanan. Penjual goresan pensil arang pencari kebebasan sejati. Kota metropolitan ini perlahan mulai memeluknya, meski dengan pelukan berduri tajam.


Sore itu, langit Jakarta memerah tembaga. Sepasang sepatu kanvas putih bertuliskan Adidas berhenti tepat di ujung tikar plastiknya. Aroma parfum jasmine samar menguat menembus pekatnya asap knalpot.


Bima mendongak. Matanya terpaku. Di balik siluet senja, seorang gadis menatapnya lekat. Senyum manis terukir di wajahnya.


Bima belum menyadari satu hal yang akan mengubah jalan hidupnya. Senyum manis itulah kelak membawanya terbang menyentuh surga terindah. Sekaligus menyeretnya jatuh membentur dasar neraka paling hina.


Bersambung...ke Bab 2